June 30, 2008

Penerimaan Siswa Baru 2008

Dear All,

Sekedar untuk info mengenai penerimaan siswa baru di SMA Negeri Depok, yang bisa saya pantau melalui PSB Online

Per hari ini 30 Juni jam 13.30 :

SMA I : Nilai tertinggi 37.45

Nilai terendah 27.70

Quota 263 orang

Pendaftar 185 orang

SMA 2 : Nilai tertinggi 36.14

Nilai terendah 27.05

Quota 208orang

Pendaftar 78 orang

SMA 3 : Nilai tertinggi 36.35

Nilai terendah 26.30

Quota 232 orang

Pendaftar 180 orang

SMA 4 : Nilai tertinggi 35.25

Nilai terendah 26.45

Quota 212 orang

Pendaftar 147 orang

SMA 5 : Nilai tertinggi 35.50

Nilai terendah 24.27

Quota 240 orang

Pendaftar 154 orang

SMA 6 : Nilai tertinggi 32.10

Nilai terendah 25.20

Quota 280 orang

Pendaftar 47 orang

Mudah-mudahan bermanfaat untuk para ortu yang mempunyai putra mau masuk ke SMU Negeri.

Salam,

Titeng

June 25, 2008

Kapitalisme Penyiaran

Kapitalisme Penyiaran


Dalam era globalisasi, isu kepemilikan media secara besar menjadi perhatian utama. Konglomerasi yang dilakukan oleh para pemilik modal semakin marak. Dalam beberapa tahun terakhir saja, terlihat kepemilikan gabungan beberapa stasiun TV telah terlihat. MNC dengan stasiun RCTI, TPI dan Global TV-nya, TransCorp dengan Trans TV dan Trans 7-nya, serta Star dengan ANTV dan TV One-nya. Dalam dunia media cetak juga sama. Saham MRA juga memiliki beberapa media percetakan dan stasiun radio serta sebuah stasiun TV lokal. Jangan lupakan Media Grup dengan Media Indonesia dan Metro TV-nya.

Dalam contoh kasus konglomerasi industri televisi, hal ini menjadi sesuatu yang patut ditelaah lebih lanjut. Menurut MPPI, ketika era reformasi, masyarakat berusaha menghapus monopoli TVRI dengan membuat UU No.32/2002. Namun sekarang, kepemilikan beberapa stasiun televisi ternyata terkumpul di beberapa perusahaan privat sehingga mengarah kepada monopoli dan oligopoli. Padahal pada awalnya, monopoli TVRI dihapuskan agar masyarakat mendapat penyegaran dalam tayangan-tayangan televisi. Namun ternyata, keberagaman acara yang diharapkan itu tak juga dapat dinikmati oleh penontonnya. Pola penyiaran televisi swasta nasional sekarang ini masih menggunakan sistem mengikuti trend yang ada. Sebagai contoh: jika ada salah satu stasiun televisi menayangkan sinetron yang bertemakan religius dan terbukti mendapatkan animo yang besar dari masyarakat, maka stasiun televisi yang lain pun akan berlomba-lomba untuk menayangkan jenis sinetron yang sama. Kesamaan isi tayangan di stasiun-stasiun televisi swasta mungkin tidak akan terpengaruh bagi para pemirsa yang memang menyukai tayangan sejenis. Tetapi bagi mereka yang memerlukan alternatif tayangan lain akan merasa jengah terhadap situasi tayangan yang ada.

Pada masa sekarang ini dalam kehidupan masyarakat, televisi sudah menjadi agen perubahan kebudayaan yang paling dominan. Media televisi akan berjuang sekeras-kerasnya agar semua orang tergantung padanya. Mereka berjuang agar pemirsanya tidak mematikan televisi. Uses and gratification televisi terhadap masyarakat sudah tidak lagi sekedar menjadi uses and gratification, bahkan lebih dari itu. Televisi sudah dijadikan sebagai cermin, dan pendikte bagaimana seharusnya kehidupan masyarakat, karena ia memiliki kemampuan untuk memanipulasi hiburan, jauh dibandingkan dengan media-media lainnya. Seperti apa yang dikatakan oleh Neil Postman, dalam bukunya "Menghibur Diri Sampai Mati", bahwa suatu media yang menonjol dalam suatu masyarakat akan merubah struktur wacana masyarakat tersebut. Kita dapat melihat bagaimana anak-anak setelah menonton tayangan-tayangan televisi tentang superhero mampu mengidentifikasi dirinya sebagai tokoh superhero tersebut, lebih dari sekedar fantasi mereka bahkan melakukan aksi-aksi yang terdapat dalam tayangan tersebut. Bagaimana para ibu-ibu rumah tangga ataupun para remaja ingin mengikuti penampilan dari selebritis idolanya yang mereka lihat di televisi. Dari contoh di atas kita dapat melihat bahwa citra yang menonjol pada televisi adalah pengeksploitasian, posisi masyarakat yang seharusnya sebagai subjek menjadi berubah sebagai objek. Perspektif ataupun dimensi etika tidak pernah menjadi unsur yang dipertimbangkan dalam bisnis televisi.

Sebenarnya, sesuai UU Penyiaran No 32/2002 sebagai dasar pijak, pemerntah seharusnya sudah saatnya untuk mengambil tindakan. Ketua KPI Sasa Djuarsa Sendjaja misalnya, menuturkan bahwa UU Penyiaran jelas melarang badan hukum atau seseorang menguasai lebih dari satu lembaga penyiaran. Demikian juga PP No 50 tahun 2005 tentang Penyelenggaraaan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (Koran Tempo, 31/02/2008). Namun yang terjadi, KPI tidak bisa bertindak langsung menyelesaikan masalah tersebut. Mereka hanya membantu pemerintah agar tercipta persaingan sehat dalam penyiaran. Sesuai ketentuan, KPI hanya wajib memberikan rekomendasi kepada pemerintah tentang aturan tata niaga penyiaran. Dalam prakteknya, pemerintah sendiri mengalami kesulitan menafsirkan perundangan, karena terdapat 14 pasal yang terkait dengan UU penyiaran. Hanya saja belum ada yang mengatur kepemilikan atau holding company. Di sisi lain perizinan diterbitkan untuk media, bukan holding company (Koran Tempo, 19/03/2008).

Dalam era globalisasi, seharusnya konglomerasi ini dimanfaatkan dalam mengatasi krisis multi level bangsa. Sesuai kemampuan yang bisa diberikan oleh para pekerja di bidang jurnalisme, baik cetak maupun siar, sudah selayaknya unsur-unsur program dan tulisan yang bersifat edukatif mulai kembali diangkat. Penayangan konten-konten yang ’tidak bermutu’ harus segera diminimalisir. Jika selama ini ’Dewa Rating’ menjadi pedoman, bukankah bisa terjadi rating ’tandingan’ yang dilakukan oleh asosiasi yang lebih independen sebagai patokan? Minimal, misalnya saja, para pemilik media membuat sebuah asosiasi gabungan yang mengatur etika, termasuk pendewaan rating. Sehingga market share atas program-program mereka, dengan kaitannya terhadap para pengiklan, masih dapat "dilangsungkan" dengan aman. Namun yang paling diharapkan adalah munculnya bibit-bibit penerus di bidang penyiaran yang 'bermoral' dan 'beretika'. Mungkin memang agak sulit jika pada akhirnya kita dihadapkan pada kepentingan praksis dan pragmatis. Yang jelas, langkah kompromi bukanlah jalan keluarnya.



Irawan Prayoga

http://shinshoku.blogs.friendster.com


June 17, 2008

SOSIALISASI SMK BROADCAST

Ass. Wr. Wb.

Gld_onliner yang budiman,

Berdasarkan catatan dan ingatan saya, dengan ini kami sampaikan informasi
sebagai berikut :

Pada tanggal 06 Juni 2008 para Ketua RT dilingkungan RW 024 (kecuali RT.004),
Ketua RW 024 dan Ketua RW 025 Mekarjaya diundang oleh Bp. H. Didi Supriyanto
di rumah beliau Blok B2 No.1.


Intinya beliau menginformasi kepada warga melalui para Ketua RT & Ketua RW
bahwa akan mendirikan Sekolah Menenagan Kejuruan (SMK) Broadcast Pertelevisian.
Mengingat lokasi sekolah yang lebih permanen sedang disiapkan, beliau
mohon ijin Untuk Sementara Waktu (+/- 1 tahun) menggunakan rumah beliau
(Blok B2 No.1) sebagai sekolah tersebut.

Mendengar penjelasan dan alasan-alasan yang beliau kemukakan, para Ketua
RW dan para Ketua RT saat itu menyatakan tidak berkeberatan dengan
pertimbangan dan alasan antara lain :

- Misi yang akan dijalankan bersifat sosial, bukan semata-mata bisnis
belaka.
- Pemanfaatan rumah tersebut sifatnya Untuk Sementara (+/- 1 tahun)
- Jumlah murid yang relatif tidak banyak : 30 orang
- Diharapkan dilingkungan RW 024 (khususnya remaja) memperoleh manfaat
positif karena dapat belajar dengan fasilitas yang ada, dan beliau dapat
menyetujuinya.
- Hal-hal lain yang mungkin timbul dan dapat berdampak negatif terhadap
lingkungan minta diminimalkan, mis. masalah keamanan, ketertiban,
kebersihan dan dampak-dampak sosial lainnya.
- Minta kepada pengelola untuk selalu berkoordinasi dengan para pengurus
RT dan RW tentang rencana pengelolaan yang akan dijalankan.
- Berharap pihak sekolah dapat menyediakan hotspot sehingga warga dapat
ikut memanfaatkan.

Mengingat lokasi sekolah tersebut berada di RT 003, maka Pengurus RT 003
berkewajiban menyampaikan hal ini kepada seluruh warga RT, yaitu dengan
mengundang warga pada pertemuan warga bulanan dan tatap muka langsung
dengan pihak sekolah.

Pada tanggal 15 Juni 2008 (pukul 20.15 s/d selesai) telah dilakukan
pertemuan langsung antara pihak sekolah (Bp. Didi Supriyanto serta
Pengelola Sekolah yang lain) dengan warga RT 003 yang hadir (13 orang).
Pada pertemuan tersebut telah terjadi dialog yang hangat dan penuh
kekeluargaan, warga minta dijelaskan secara detail tentang rencana
aktifitas tersebut, sehingga jangan sampai mengganggu dan mengusik
ketentraman warga khususnya RT 003.

Pihak sekolah menjelaskan dan menjamin bahwa pengelolaan akan selalu
memperhatikan & mengantisipasi dampak-dampak negatif yang kemungkinan
muncul yang dikhawatirkan oleh warga, misalnya :
- Masalah keamanan, akan menempatkan tenaga keamanan dan akan
berkoordinasi dengan keamanan yang menjadi otoritas RW.
- Masalah parkir kendaraan, pihak sekolah minta disediakan lokasi
(kompensasi parkir akan disiapkan), warga menyarankan koordinasi dengan RW

agar dapat memanfaatkan taman utama sebelah timur yang belum di conblock.
Pihak sekolah akan mempertimbangkan dan mungkin akan memberikan kompensasi
untuk memasang conblocknya.

- Siswa dilarang membawa kendaraan roda 4 (mobil).
- Masalah kebersihan, pihak sekolah akan memperhatikan.
- Sekolah menyediakan kantin kecil, warga diminta untuk mengisinya.
- Warga dilingkungan RW 024 (khususnya remaja) dipersilahkan untuk ikut
belajar dengan menggunakan fasilitas yang ada (pengaturan oleh pihak
sekolah).
- Pihak sekolah berjanji untuk akomodatif dan koordinatif dengan Pengurus
RT dan RW.

Pada akhir dialog pihak warga sepakat dan tidak keberatan dengan catatan
pihak sekolah dapat melaksanakan syarat-syarat yang diminta oleh warga.

Demikian informasi yang dapat saya sampaikan, mohon maaf jika kurang
berkenan, selanjutnya mohon saran dan tanggapan dari warga yang lain.

Wassalam,
maryono

June 11, 2008

10 Ciri Orang Berpikir Positif

Mari coba meniru jalan pikiran orang yang berpikiran positif. Ciri-ciri orang yang berpikir positif adalah :

1. Melihat masalah sebagai tantangan
Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.

2. Menikmati hidupnya
Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.

3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide
Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.

4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak
Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.

5. Mensyukuri apa yang dimilikinya
Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.

6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu
Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.

7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan
Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya. NARO (No Action Review Only), NADO (No Action Dream Only), NATO (No Action Talk Only), NACO (No Action Concept Only), NABO (No Action Briefing Only), NAMO (No Action Meeting Olny), NASO (No Acton Strategy Only)

8. Menggunakan bahasa positif
Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan, " dan "Dia memang berbakat."

9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif
Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.

10. Peduli pada citra diri
Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.


regard,
deazy


Source : Milis Tetangga

Lowongan Pekerjaan IT URGENT!!!

Ada lowongan untuk IT untuk ditempatkan di PT.INDOSAT, tapi harus test hari ini (11 Juni 2008) terakhir, yang berminat hubungi kakak saya

Ibu Purwati , HP 081584844408 langsung saja datang dengan membawa lamaran lengkap ke Gedung INDOSAT Lt.24.

Ditunggu hari ini sampai jam 16.00. Nanti yang akan memilih usernya dari INDOSAT.

Thanks

Titeng

June 9, 2008

Salam kenal dr Bu Riris

Salam kenal,

Yang kenal saya kebangetan dech....
Pak Syamsi oke juga lho websitenya GLD
saya lihat gambar-gambarnya cukup ok bagus.
Mungkin perlu diperbanyak aja lagi informasinya......

Kalau boleh usul nech...kan lagi musim Bola nech..
Ngadain nonton bareng donk...nanti yang siapin makanan
dan minuman Pak RW aja ya...he...he....he....

Jangan marah Pak Syamsi.... becanda kok...

See you..........


Riris Idawaty Siregar
Blok C1 No.6

June 5, 2008

Lowongan Pekerjaan

Info ini didapat dari Tante Titeng aka Busekrt02

Assalamualaikum wr.wb

Teman-temanku yang ganteng dan cantik, apa kabar neeh....aku mau minta tolong apabila ada teman, saudara atau tetangga siapa aja yang berminat untuk bekerja, kebetulan perusahaan tempat aku bekerja lagi membutuhkan tenaga engineer dibawah ini

1 orang Hydro Mechanical Engineer

1 orang Generating Plant Engineer

1 orang Quantity Surveyor Mechanical

1 orang Quantity Surveyor Electrical

1 orang Scheduler

1 orang Site Inspector Mechanical

1 orang Site Inspector Electrical

1 orang Boiler Engineer

1 orang Plant Electrical Engineer

1 orang I & C Engineer

1 orang Site Inspector Electrical


Persyaratan yang diminta

1. Engineer berpengalaman dibidangnya minimal 5 tahun

2. Site Inspector: Berpengalaman minimal dibidangnya 3 tahun

3. Menguasai Microsoft Project (Scheduler)

4. Menguasai Bahasa Inggris (lisan dan tulisan)

5. Mampu bekerja di bawah tekanan dan full time

6. Dapat dan mampu mengaplikasikan komputer

Kalau ada yang berminat tolong diinformasikan dan dapat kirim cv, foto ke alamat email ku adetri_wahyuni@yahoo.co.id paling lambat tanggal 10 Juni 2008. Atas perhatian teman-temanku...thanks ya

Wassallam

Ade Tri

June 2, 2008

BERITA DUKA CITA

BARU SAJA MENINGGAL DUNIA PADA PUKUL 10.25, WARGA GRIYA LEMBAH DEPOK - Blok A3 No.3

IBU YATI KUSYATI ( Kakak Bp.Rachmat Setiawan / Ance )

LAHIR 21 OKTOBER 1955

MUDAH-2AN BELIAU MENDAPAT TEMPAT YANG LAYAK SESUAI DENGAN AMALANNYA


Dari :Titeng
--------------------------------------
Saya Juga mengucapkan turut berduka cita, semoga arwah beliau diterima di Sisi Allah swt, amin

Musik Indie Indonesia: Selangkah Lebih Maju Menuju “Go Intenational”

008Salah satu bentuk media massa modern adalah musik. Penyebaran media ini dilakukan dengan mengemasnya dalam bentuk kaset, CD, atau digital content seperti mp3 dan ring back tone. Musik telah diterima di seluruh negara di dunia sebagai suatu bahasa universal. Tidak jarang, banyak para musisi yang ikut menyuarakan kepentingan-kepentingan mereka, baik menentang suatu bentuk ideologi tertentu ataupun mendukungnya, dengan menyisipkan pesan-pesan tertentu di dalam lirik lagu mereka atau pada saat performance mereka di atas panggung.

Menurut Denis McQuail, ketika signifikansi kultural dari musik telah mendapatkan banyak perhatian, terjadinya suatu hubungan antara musik dengan kejadian-kejadian sosial dan politis telah disadari secara nyata. Sejak kebangkitan youth-based industry di tahun 1960-an, musik populer yang dimediasi secara massal dikaitkan dengan idealisme kaum muda dan kepedulian politik, hingga dugaan terjadinya degenerasi dan hedonisme, penggunaan obat-obatan terlarang, kekerasan dan perilaku antisosial. Musik juga berperan dalam berbagai macam gerakan-gerakan kemerdekaan nasionalis (seperti di Irlandia dan Estonia). Di Indonesia sendiri, dalam sejarahnya, musik banyak berperan dalam gerakan-gerakan perjuangan dan kemerdekaan. Lagu-lagu mars bertempo sedang seringkali digunakan sebagai pembangkit motivasi para pejuang dalam bertempur.

Pada prosesnya, perkembangan musik Indonesia sempat “dikontrol” oleh penguasa di jaman orde lama. Isu nasionalisme bahkan sempat membuat grup band seperti Koes Plus dipenjara karena dianggap menyebarkan nilai-nilai barat. Namun seiring pergantian tatanan di Indonesia, musik di negeri ini cukup banyak mengalami kemajuan, meskipun masih saja didominasi lagu-lagu pop bertempo pelan. Di tahun 1970-an bahkan terdapat beberapa grup band asal Indonesia yang mendapat sambuntan hangat di luar negeri. Namun krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1998, seakan menjadi titik kemunduran industri musik tanah air. Memang, industri musik termasuk salah satu industri yang mampu bertahan dari serangan krisis ekonomi tersebut. Akibat krisis ekonomi tersebut, maka atas nama penyelamatan pangsa pasar, para produser musik major label kemudian konsisten dalam merilis produk-produknya berupa musik pop ringan tanpa adanya variasi produk yang cukup berarti, bahkan hingga kini. Keadaan ini telah menjadikannya semacam hegemoni oleh industri musik besar terhadap para konsumennya. Mereka bahkan tidak diberi banyak pilihan genre musik. Industri musik di Indonesia telah “menyamakan bentuk” atau melakukan standardisasi produk-produk musik mereka, dalam hal ini berupa musik pop bertempo pelan yang bertemakan cinta.

Menurut Dominic Strinati, di dalam bukunya yang berjudul Popular Culture: An Introduction to Theories of Popular Culture, secara industrial, bentuk produksi ini merupakan sebuah proses standardisasi di mana produk-produk tersebut memiliki bentuk yang sama pada semua komoditas. Ditambahkan menurut T. Adorno, musik pop yang dihasilkan oleh industri budaya didominasi oleh proses standardisasi. Di sini gagasannya adalah bahwa lagu-lagu pop makin lama makin terdengar mirip satu sama lain, meskipun terdapat beberapa ciri tersendiri di tiap-tiap struktur inti lagu. Standardisasi merujuk pada kemiripan mendasar di antara lagu-lagu pop. Standardisasi mengandung pengertian bahwa lagu-lagu pop makin mirip satu sama lain, dan bagian-bagian, bait-bait maupun chord-nya semakin dapat saling dipertukarkan. Dengar saja lagu-lagu milik band Ungu, Naff, Kangen Band, atau band-band pop yang akhir-akhir ini menjamur.

Di tengah terpaan musik pop bertemakan cinta yang mendayu-dayu inilah lalu muncul minor label (atau biasa disebut indie label) yang mengusung konsep berbeda. Meskipun tidak sedikit dari grup band yang berasal dari indie label tersebut juga menyuarakan cinta, namun konsep musik yang diusung jauh berbeda dan lebih variatif dibandingkan produk-produk musik keluaran major label. Pada kenyataannya, para produser indie label inilah yang justru “menyelamatkan” pasar dengan memberikan media alternatif pada masyarakat. Kemunculan minor label sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni industri musik mainstream yang ada sangat didasari semangat kemandirian (independence). Slogan D.I.Y (Do It Yourself) yang mereka dengungkan juga menyertai kebangkitan industri musik alternatif Indonesia. Kemunculan musik independen tidak luput dengan adanya isu-isu perlawanan terhadap industri musik besar yang ada. Musik yang mereka hasilkan merupakan penanda akan ketidakpuasan terhadap produk-produk pasar hasil keluaran industri musik besar.

Pada perjalanannya, justru industri minor label inilah yang banyak berperan didalam distribusi musik Indonesia ke luar negeri. Ada semacam ironi disaat label besar hanya berkutat di cakupan regional yang kecil, sementara label kecil sudah merangkul sebagian wilayah dunia. Disaat label besar seperti “Sony Music” dan “Musica” sibuk menyebarkan produk “musik pasar”-nya ke seluruh pelosok Indonesia demi platinum, label-label kecil macam “Aksara” dan “FastForward” telah berhasil memasarkan produk-produk musik mereka hingga ke Amerika, Australia dan Eropa. Ketika kaset dan CD dari “Radja” dan “Peterpan” paling jauh beredar di Malaysia, maka “White Shoes And The Couples Company” dan “Mocca” telah berhasil menjual karya mereka dan memukau audiens di New York dan Jepang.

Keterbatasan secara ekonomi yang dialami para produser dan label kecil indie ini tidak menjadikan mereka pasrah terhadap keadaan pasar nasional. Sadar akan kemampuannya yang tidak begitu besar dalam penetrasi pasar dalam negeri, yang notabene “dikuasai” para major label dengan produk-produknya yang ‘terstandardisasi’, para indie label ini kemudian mencoba menjual musik mereka ke luar negeri. Unsur technological development juga telah menuntun para produser minor label untuk mulai bertumpu pada format distribusi baru, yaitu content digital. Selain diedarkan secara internasional dalam bentuk konvensional (kaset atau CD), penjualan melalui situs musik digital online juga telah marak. Situs asal Indonesia yaitu “nexxG” dan “equinoxDMD” adalah contoh publisher media secara online.

Jalur distribusi online secara digital akhirnya menjadi salah satu pilihan mereka. Implikasinya, dengan jaringan ini, produk mereka bahkan ada yang akhirnya dirilis secara konvensional dalam bentuk CD, bahkan plat, di negara-negara seperti Amerika, Australia, Jepang, Kanada dan Eropa. Hal ini tentu saja menguntungkan karena musik lokal Indonesia dapat dikenal di manca negara, karena selama ini musik Indonesia hanya dikenal melalui festival-festival musik yang menonjolkan penyanyi-penyanyi solo saja, dan masih jarang beredar dalam bentuk recorded music di luar negeri.

Munculnya minor label atau indie label sebagai salah satu bentuk produksi media alternatif dalam industri musik, merupakan suatu usaha untuk memberi ciri kepada output media atau untuk menawarkan sesuatu yang lain. Dukungan penuh terhadap convergence culture yang mendunia telah ditunjukkan oleh label-label kecil ini dengan merilis produk media mereka dalam format digital agar lebih dapat diterima secara internasional.


Irawan Prayoga

http://shinshoku.blogs.friendster.com